Rabu, 03 Juni 2009

Kuasai Indonesia, Serasa Dapat Perancis dan Belgia

Franck Riboud, CEO Group Danone, yang Terpikat Potensi Indonesia

Ungkapan Indonesia luar biasa sering terdengar akhir-akhir ini. Namun, jika itu diucapkan oleh Franck Riboud, begitu besar artinya. Dia adalah pucuk pimpinan group produsen raksasa makanan, Danone, dan siap mengirim dana investasi triliunan rupiah ke negara yang diminatinya.

Jauh dari kesan seorang CEO perusahaan yang beroperasi di puluhan negara, Riboud tampil apa adanya saat menemui rombongan wartawan Indonesia pertengahan Mei lalu. Dia hanya mengenakan sweater biru muda, sehingga terlihat lebih mirip dosen dibanding dirut berpengalaman.
Selama kurang lebih 90 menit, ia bercerita panjang lebar tentang sejarah perjalanan Danone hingga menjadi perusahaan multinasional yang terpandang di dunia. Gaya bicaranya luwes dan apa adanya.
Pria kelahiran 7 December 1955 di Lyon itu semakin antusias saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang rencana bisnis perusahaanya di Indonesia. “Kami memiliki pertumbuhan pasar tercepat dibandingkan pasar-pasar kami yang lain di dunia” ucapnya

Awal ketertarikan Riboud terhadap Indonesia terjadi saat dia datang ke Jakarta untuk menghadiri sebuah presentasi marketing enam tahun lalu. Presentasi itu berhasil menawan hatinya. Presentasi itu menggambarkan piramida yang menunjukkan kemampuan daya beli masyarakat Indonesia di level A, B, C, D dan E. Kesimpulan yang diambil dari presentasi tersebut sangat jelas. Pasar di Indonesia sangat potensial.
Ribound memaparkan, pendapatan perkapita 20-30 juta penduduk Indonesia dinilai sama dengan pendapatan perkapita 20-30 juta penduduk Perancis atau Belgia.
Berdasarkan presentasi tersebut, dasar piramida di Indonesia di tempati sekitar 70 juta penduduk. Hal itu menurutnya sebuah pangsa pasar besar yang amat menguntungkan. “Meski banyak yang bertanya bisnis di dasar piramidanya, kenapa tidak? cetusnya.
Ini disebabkan, kata Ribound, misi Group Danone adalah merangkul sebanyak mungkin orang. Jadi kita harus mencoba merangkul lebih jauh lagi meski akan muncul kesulitan dalam hal produksi, distribusi, produk dan iklannya, tuturnya.
Salah satu image yang ingin ditekankan untuk merebut pangsa pasar di Indonesia adalah mengutamakan kesehatan. Itulah sebabnya Danone memutuskan menjual biskuat ke Kraft, Nabisco, lantaran dinilai tidak sesuai dengan visi dan misi kesehatan.
Uang penjualan itu, kata Ribound, di gunakan untuk mengakusisi Numico dan Dumex, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang makanan bayi. Merek itu sangat kuat posisinya di Indonesia.” Indonesia juga menjadi negara terpenting bagi Danone, karena kami memiliki Aqua” terangnya. Bagi Ribound, Aqua merupakan sebuah merek air minum terbesar bukan hanya di Asia tapi juga dunia.
Setelah Biskuat, Danone kembali meluncurkan Milkuat, sebuah produk berbasis susu. Misinya sama, ingin mencapai dasar piramida. Saat ini, misi Danone adalah menjangkau konsumen-konsumen baru di Indonesia. Tidak hanya piramida dasar, tapi juga menengah. “Jadi, bisa kita lihat bahwa strategi affordability (keterjangkauan) bisa kami laksanakan karena Indonesia, jelasnya.
Danone juga akan meninjau ulang harga produk makanan bayi seperti Babylac dan Nutrilon yang cukup tinggi.” Harga dua produk itu tinggi karena kaya akan kandungan gizi serta diolah secara canggih,”ujarnya. Kendati demikian, kata Ribound, perusahaannya akan melakukan adaptasi dengan daya beli konsumen Indonesia.
“Kami akan menerapkan strategi yang sama dan memastikan bahwa setiap ibu dapat membeli produk ini untuk anak-anak mereka, imbuhnya. Ribound mengatakan, seandainya melihat bola dunia, Aqua berkontribusi 28 persen, Milkuat 12 persen, produk berbasis susu 8 persen, dan Nutricia 20 persen. “Kami memiliki lebih dari 13.000 karyawan di Indonesia dan 10.000 diantaranya bekerja di Aqua. Karena itu, kami optimis bisa menjangkau sebanyak mungkin konsumen di Indonesia,” ungkapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar